Paham Hukum Hutang Piutang dalam Islam

Mengambil hutang merupakan solusi instan yang sering ditempuh orang untuk memperoleh apa yang dibutuhkan atau diinginkan. Dalam Islam selalu ditekankan untuk saling membantu sesama saudara muslim termasuk memberikan hutang. Bagaimana ketentuan hukum hutang piutang dalam islam?

Islam membolehkan umatnya berhutang asal mampu untuk melunasinya. Allah memberikan peringatan keras orang yang punya hutang dan mampu membayarnya namun tidak dilakukan. Dalam hadis shahih yang diriwayatkan Ibnu Majah “Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mati dalam kondisi masih punya hutang satu dinar atau satu dirham, tentu hutang itu akan dibayar dengan kebaikannya (pada hari kiamat nanti) sebab di sana (akhirat) tak ada lagi dinar dan dirham.” Masih dari Ibnu Majah : “Barangsiapa yang ruhnya terpisah dari jasadnya dan ia terhindar dari tiga hal: sombong, ghulul (khianat), dan hutang, tentu ia akan masuk surga.”

Kalau kamu butuh jasa penagihan hutang bisa gunakan jasa dari pengacaraindonesia.com

Hukum hutang piutang dalam Islam bersifat jaiz artinya diperbolehkan. Hanya saja Islam mengaturnya dengan rinci. Hutang atau al-Qardh bermakna memotong. Sementara ditinjau dari syar’i berarti memberikan harta karena kasih sayang kepada orang lain yang memerlukan untuk digunakan dengan benar. Setelah waktu yang ditentukan, harta itu harus dikembalikan ke orang yang memberikan.

Hukum hutang piutang dalam Islam wajib mengikuti rukun yang ditetapkan meliputi : ada pemberi hutang, penerima hutang, ada ijab qabul atau perjanjian, dan ada harta yang dipinjamkan. Dalam surah Al Baqarah ayat 245 Allah SWT berfirman: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), tentu Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”

Berhutang meski diperbolehkan namun jangan dijadikan kebiasaan sebab bisa merusak akhlak. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, tentu dia sering berkata lalu berdusta, atau berjanji lalu memungkiri.” Orang yang biasa berhutang maka gampang dipengaruhi setan supaya melakukan kemaksiatan agar dapat membayar hutangnya diantaranya melakukan pencurian atau perampokan.

Kemudian orang yang memiliki hutang namun setelah punya uang tak segera membayarkannya, maka Allah menganggapnya sebagai seorang pencuri. Dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah, Nabi SAW bersabda : “Siapa saja yang berhutang kemudian beritikad tak mau melunasinya, tentu dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.”.

Orang yang berhutang lalu dia mati dan belum sempat melunasi hutang itu maka hukum Islam menyatakan jenazahnya dilarang disalatkan. Di masa Nabi SAW, beliau pernah tak mau mensalatkan jenazah yang masih punya hutang akan tetapi belum dilunasi dan tanpa meninggalkan harta sedikitpun. Hingga seorang sahabat Nabi SAW mau menanggung hutang tersebut, baru Nabi SAW bersedia mensalatkan.

Termasuk bahaya orang yang mati dengan masih meninggalkan hutang adalah dosanya tak diampuni kendati ia gugur sebagai syahid. Muslim meriwayatkan sebuah hadis sahih tentang hal itu. Nabi SAW bersabda : “Semua dosa orang yang mati syahid Akan diampuni (oleh Allah), kecuali utangnya.”. Meski ia seorang sahid yang berjuang membela agama Allah namun ia masih memiliki kewajiban kepada makhluk maka ia tetap mendapatkan dosa dari berhutang yang tak dibayar itu.

Apabila terpaksa harus mengambil hutang, memang pilihan yang lebih baik dibanding berbuat dosa dengan mencuri. Namun mesti dipahami, tujuan berhutang adalah untuk digunakan dengan sebaik-baiknya. Juga ada niat yang kuat untuk secepatnya membayar hutang itu supaya di akhirat tak menjadi sebab terjatuh ke neraka.

Published by

Rompis

Bleh Bleeh....

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *